Skip Navigation?

Indonesia: Dampak Tren Siber pada Industri

Tanggal Terbit 07.29.2019
Topic Siaran Pers

Indonesia: Dampak Tren Siber pada Industri

Berkembangnya informasi dan teknologi merevolusi banyak perusahaan di dunia dalam menjalankan bisnisnya. Pemanfaatan komputasi awan, aplikasi, atau big data tidak selanjutnya membuat segala urusan menjadi lebih mudah dan bebas risiko.

Sebagai bukti, Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure melansir lebih dari 207,9 juta serangan siber masuk ke Indonesia pada periode antara Januari danOktober 2018 lalu.

Serangan siber ini dapat mengakibatkan kebocoran dan kehilangan data yang berujung pada masalah terkait hukum, reputasi perusahaan, kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan serta kerugian finansial.

Ironisnya, banyak perusahaan percaya dengan berinvestasi pada perangkat lunak keamanan atau outsourcing Teknologi Informasi (TI) dapat membantu mereka mencegah kerugian di dunia maya.

Padahal, itu saja tidak cukup.
Kita dapat melihat kasus pelanggaran data yang terjadi di beberapa perusahaan global terkemuka. Perusahaan-perusahaan tersebut menderita kerugian besar, meskipun mereka telah memiliki perangkat lunak anti-virus dengan departemen TI yang profesional.

Pada 2018 lalu, 63,5 persen serangan siber diidentifikasi sebagai pencurian data. Umumnya serangan siber ini mengincar manufaktur, sektor layanan kesehatan, transportasi, ritel, dan layanan jasa keuangan.

Llyod melansir serangan siber berpotensi mengakibatkan kerugian paling sedikit US$85 miliar hingga US$193 miliar di seluruh dunia. Region Asia tercatat paling terdampak, setelah Amerika Serikat dan Eropa, dengan potensi kerugian sebesar US$19 miliar.

Sayangnya, dari potensi kerugian tersebut, hanya 14 persen di antaranya yang terlindungi oleh asuransi siber.

Lalu, siapa yang membutuhkan asuransi siber?

Kenyataannya, setiap perusahaan yang menyimpan data atau bergantung pada komputer dan internet, sangat rentan terhadap serangan siber, seperti layanan hotel, layanan keuangan, layanan pendidikan, termasuk layanan kesehatan dan pajak.

Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh perusahaan pembuat perangkat lunak sistem keamanan Symantec, menyebut usaha kecil dan menengah pun menjadi sasaran serangan siber karena sistem keamanan mereka yang umumnya lebih lemah.

Menurut hasil riset Symantec, sejak awal 2010 silam, 40 persen dari seluruh serangan ditargetkan kepada perusahaan kecil dan menengah. Lebih tinggi dibandingkan serangan siber ke perusahaan besar yang sebanyak 28 persen.

Berangkat dari kenyataan itu, AIG Indonesia menawarkan solusi inovatif lewat CyberEdge.

CyberEdge adalah produk yang memberikan perlindungan bagi perusahaan atas risiko dari gangguan keamanan data atau jaringan dari kerugian atas biaya hukum akibat pelanggaran data sensitif konsumen, biaya penasihat/jasa forensik, biaya pemulihan data serta biaya pemerasan dunia maya.

Selain itu, CyberEdge juga memberikan perlindungan tambahan bagi perusahaan dari biaya konsultan hubungan masyarakat dalam membantu perusahaan melakukan perbaikan reputasi akibat pelanggaran data.

Asuransi siber cukup populer di Amerika Serikat selama lebih dari satu dekade dan sedang naik daun di Jepang. Namun, produk ini relatif baru di Indonesia. AIG Indonesia sendiri telah meluncurkan CyberEdge sejak 2015 lalu.

Silahkan Sebarkan!